Rifie.

Hi! I am Syarifah Riefandania, this is where I write anything that can improve my day. Moving forward, one step at a time.

Rifie.

Hi! I am Syarifah Riefandania, this is where I write anything that can improve my day. Moving forward, one step at a time.

Sulitnya Menyebrang Jalan

Setiap hari, 25 menit saya jalan kaki. 10 menit dari stasiun Gondangdia ke meja saya, dan 15 menit dari stasiun Cawang menuju rumah. Dari situ, cukup lah ya saya melihat bagaimana mental orang-orang berlalu lintas. Apalagi masalah pejalan kaki selalu sama. Susah menyebrang! Menyebrang jalan itu merupakan awal dari semua tulisan ini. Bukan trotoar yang berbahaya karena banyak galian rusak atau motor yang naik ke trotoar.

Trotoar berlobang bukan masalah berat. *cough* sarcasm *cough*

Jadi begini, normalnya jika ada pejalan kaki ingin menyebrang di zebra cross yang tidak ada lampu merah (normalnya ya) sang pengendara motor akan memperlambat laju kecepatannya dan berhenti ketika pejalan kaki menyebrang. Tetapi pada kenyataannya, motor akan menambah laju sambil membunyikan klaksonnya dari radius sekian meter. Kalau mobil, akan mengedip-ngedipkan lampunya. Sakit hati? Tentu saja. Yang menyebrang jalan dianggap nyamuk saja. T_T;

Sayangnya, ini di Jepang zebra crossnya besar.

Orang menyebrang saja tidak diberi kesempatan, apalagi toleransi antar kendaraan di jalan. Such a PITA. Well, it's not my ass.

But anyway, sekali-kalinya saya menyebrang sendirian (di zebra cross tentunya) ada satu mobil yang benar-benar menunggu saya selesai menyebrang. Terus dalam hati, AKHIRNYA! Ada secercah harapan dan keyakinan kalau orang Jakarta yang punya mobil benar-benar menghargai pejalan kaki.

Tetapi, harapan itu langsung sirna ketika saya melihat sopirnya. Ternyata orang bule.

Sejak saat itu, saya berhenti berharap.

Written on May 17, 2014 • Tweet this!