Dear Commuter Line

Satu tahun sudah saya menuju kantor dengan menggunakan Commuter Line (KRL AC Jadebotabek) dengan bermula di stasiun Cawang dan berhenti di Stasiun Gondangdia. Cukup empat stasiun saja dan mungkin hanya dua-tiga kali saya duduk di kursi kereta, dalam setahun. Bebas macet pula.

Gerbong wanita adalah sahabat terbaik saya. Cukup nyaman di sana ketika AC menyala. Dengan adanya gerbong wanita, saya merasa cukup aman, meski yah tidak duduk dan sering dempet-dempetan dengan wanita yang tidak dikenal. Well at least they’re woman. Menurut saya, mengadakan gerbong perempuan itu merupakan keputusan yang tepat bagi PT KAI. Mungkin hanya itu satu-satunya keputusan tepat yang diambil oleh PT. KAI.

Selama satu tahun itu juga, PT. KAI juga berusaha meningkatkan kinerjanya, meski ada dan tiada. Ada dan tiada, mengapa? Sebagai penumpang KRL setiap hari (kecuali Sabtu dan Minggu), peningkatan kinerja buat saya hampir tidak ada. Mereka hanya mengutak-atik jadwal dan rencana penggunaan e-ticketing yang amat sangat lama sekali. Sangat terlambat untuk membuat tarif progresif (meski terlambat tapi ya memang terlambat), begitu juga kereta yang tidak tepat waktu. Sepertinya tidak ada solusinya.

Stasiun? Stasiun juga fasilitasnya tidak ada perubahan. Eskalator cuma diutak-atik doang selama satu tahun. Masa’ ga bener-bener?

Padahal, banyak penumpang yang menggantungkan waktunya loh. Tapi tetap PT. KAI tidak pernah sadar akan hal itu. Mulai dari mengantri beli karcis (di loket yang hanya buka satu loket) saja sudah mengular sampai harus berputus asa menunggu kereta yang tidak kunjung tiba tepat waktu.

Dikira waktu itu murah kali ya. Saya bingung, Commuter Line kerjanya apa ya? Kerja setengah-setengah gitu.

Written on May 27, 2013 • Tweet this!