Tak terasa, bulan Ramadhan yang penuh berkah akan segera berakhir, dan tibalah hari kemenangan, bagi orang-orang yang bertakwa.
Merayakan kemenangan dan kembali fitri, pastilah kita akan membagi kebahagiaan dengan orang-orang yang paling kita sayangi, meskipun orang yang kita sayangi itu jauh sekali dari tempat kita sekarang bekerja, tak bolehlah kita melupakan mereka. Yang saya maksud adalah orang tua kita, sanak famili dan kerabat. Wajiblah kita berkumpul dan saling memaafkan serta tentu saja, memakan ketupat yang dimasak dengan rasa kasih sayang karena anaknya pulang kampung dan barangkali, membawa rezeki yang akan disantunkan ke fakir miskin.
Karena rasa itulah, mudik ke kota kelahiran bagi kita sangatlah penting dan esensial. Berjejal-jejalan ketika memasuki kereta api dan perahu (feri maksudnya), mencari-cari tiket di terminal bahkan yang dujual harga yang selangit, berlomba-lomba memesan tiket pesawat, memperbaiki mobil agar tetap prima di jalan yang tidak dekat, mempersiapkan jaket, helm dan satu tas besar agar bisa dibawa selagi mengendarai motor. Semua dilakukan untuk merayakan idul fitri dengan keluarga tercinta. Belum lagi, macet di jalan yang diakibatkan padatnya kendaraan yang akan pulang serta jalanan berlobang dan rusak yang saat ini masih belum selesai diperbaiki.
Jangan lupa untuk berterima kasih untuk Pak Polisi, yang mengatur arus lalu-lintas mudik demi kenyamanan bersama.
Lupakanlah sejenak jalanan di Jakarta yang semakin macet karena proyek yang tak kunjung usai seperti Proyek Senen. Hehehe. Hiraukan sejenak deadline kantor dan jangan membicarakan calon-calon Presiden Indonesia yang akan datang.
Tetapi, kampung saya di Jakarta dan tidak mudik. Keluarga besar Betawi. Yah mo begimane? Pernah saya mudik. Mudik ke Jakarta tapi. Sewaktu saya masih di Korea Selatan dahulu. Karena libur musim dingin berbarengan dengan Idul Fitri beberapa tahun yang lalu. :D
Hati-hati di jalan,
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin. :)
Foto dari indo.com